Resume 2 : Public Speaking dan Pemilu di UNJ
1. Retorika
Retorika adalah suatu gaya/seni berbicara baik yang
dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) dan keterampilan teknis.
Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik,
yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia.
Apabila ingin mempengaruhi orang lain, maka yang perlu dilakukan adalah :
1) Rebut perhatiannya
2) Bangkitkan kebutuhannya
3) Doronglah untuk bertindak
Yang harus diperhatikan dalam public speaking diantaranya:
1. Bahasa Mulut
Dalam berbicara di depan banyak orang yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh terlalu cepat atau lambat dalam menyampaikan suatu materi, penyampaian informasi harus jelas jika ada suatu kata yang harus ditekankan jangan ragu berbicara dan membuka mulut dalam berbicara supaya pesan dapat tersampaikan ke audience.
2. Bahasa Tubuh
Dalam berbicara di depan banyak orang maka penampilan harus rapi, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pada saat menjadi pembicara maka rambut harus rapi, mata harus menatap audience, tangan digerakkan seperlunya; tidak boleh berada di saku. Karena seseorang yang berpenampilan baik akan lebih disegani daripada seseorang yang berpenampilan kurang baik.
3. Bahasa Hati
Dalam berbicara di depan banyak orang, pembicara harus menyampaikan materi dengan hati supaya materi yang disampaikan dapat tersalurkan ke audience dengan baik.
Tips untuk sukses public speaking:
a. Ketahui kondisi ruangan
b. Kenali audience
c. Kuasai materi
d. Santai dan rileks dalam membawakan materi
e. Membayangkan bagaimana cara penyampaian materi
f. Berlatih berulang kali dari referensi yang dibaca
Dalam public speaking, seseorang memiliki karakter masing-masing yang tidak bisa disamakan dengan orang lain. Ada yang lemah lembut dalam menyampaikan materi, ada juga yang sampai berteriak-teriak dalam menyampaikan materi.
2. Mekanisme Pemilu
Berthold Brecht (1898 –
1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater,
dan marxis, nasehatnya penting kita renungkan; "Buta yang terburuk
adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak
berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya
hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu
dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta
politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya
mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari
kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk
dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan
multinasional yang menguras kekayaan negeri."
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
"Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak
berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik.
Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.
Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik.
Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional."
Bertolt Brecht(Penyair Jerman)
Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.
Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik.
Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional."
Bertolt Brecht(Penyair Jerman)
Dasar Pelaksanaan Pemilu di UNJ : AD ART OPMAWA, PO Pemilu, PO Pileg UNJ
Tujuan pemilu di UNJ adalah untuk memilih :
A. Wakil Eksekutif
1. Ketua dan wakil ketua BEM Universitas secara berpasangan
2. Ketua BEM Fakultas
3. Ketua BEM Prodi
B. Wakil Legislatif
1. Anggota MTM Universitas Negeri Jakarta
2. Anggota BPM Universitas Negeri Jakarta
3. Anggota LLMP/BLMP/DP/LPMP
Azaz Pemilu :
1. Langsung : Setiap peserta pemilu memilih calon eksekutif/legislatif secara langsung, tidak boleh diwakilkan.
2. Umum : Semua warga Universitas Negeri Jakarta, dengan memiliki Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Jika ada warga Universitas Negeri Jakarta yang belum memiliki KTM, dapat memilih dengan membawa surat undangan pemilu ke Tempat Pemungutan Suara(TPS).
3. Bebas : Peserta pemilu bebas memilih siapapun tanpa adanya tekanan.
4. Rahasia : Kerahasiaaan dalam memilih calon hanya pemilih yang tahu, tidak perlu diumbar.
5. Jujur : Pelaksanaan pemilu dilakukan dengan menjunjung tinggi azaz kejujuran dan keterbukaan jadi tidak ada kecurangan dalam pelaksanaan pemilu.
6. Adil : Peserta pemilu diberikan kesempatan yang sama dan proporsional dalam pemilu.
Tahapan Pemilu :
1. Pembentukan Pansel
Pansel
adalah panitia seleksi, tugasnya adalah menyeleksi panitia KPU. Pansel
terdiri dari : Ketua BEM, Ketua LLM, perwakilan LLM, Perwakilan BEM, Perwakilan
LLM, dan perwakilan KPU.
2. Pembentukan DKPP UNJ dan Ketua
DKPP UNJ.
3. Pembentukan Panwaslu UNJ dan Ketua Panwaslu UNJ.
4. Pemilihan Ketua KPU UNJ.
5. Pembentukan Panitia KPU UNJ.
6. Pembekalan untuk penyelenggaraan pemilu UNJ.
7. Pendaftaran peserta Pemilu UNJ.
Tahapan Selanjutnya :
1. Pendaftaran (BEM dan LLM)
2. Pengambilan berkas pendaftaran
3. Penutupan pendaftaran
4. Verifikasi berkas bakal calon
5. Penetapan calon
6. Uji kelayakan
7. Kampanye
8. Dialog calon
9. Kampanye akbar (Kampus D -> Kampus E-> Kampus B-> Kampus A)
10. Masa tenang
11. Pekan pemungutan suara(min.3 hari dan maks. 1 minggu)
12. Perhitungan suara
13. Pengaduan
14. Pengesahan pemenang pemilu
15. Pemberian laporan pertanggungjawaban (LPJ)
Perangkat pemilu :
1. Komisi Pemilihan Umum (KPU), dibagi menjadi
- KPU Universitas
- KPU Fakultas
- KPU Jurusan
KPU Terdiri dari :
a. Ketua : berkoordinasi untuk membuat sistem pemilu yang demokratis
b. Sekretaris : menjadi notula, mengumpulkan database pengurus KPU, membuat LPJ dan SPJ, mengelola surat masuk dan keluar di KPU
c. Bendahara : Mengrurus hal-hal yang berkaitan dengan keuangan
d. Administrator dan Hukum : memeriksa berkas kandidat pemilu, bertanggungjawab terhadap sosialisasi pemilu, menentukan naskah landasan hukum.
e. Acara : menentukan tempat-tempat dilaksanakannya pemilu, bertanggungjawab dalam pelaksanaan acara, menyusun acara
f. Logistik : mengurus hal yang berkaitan dengan surat suara
g. HPD : Menyampaikan informasi terkait pemilu
2. Panitia Pengawas Pemilu (PANWASLU)
Dibentuk MTM bersama LLM. Bertugas untuk mengawasi jalannya pemilu, mengeluarkan booklet dan poster/banner.
3. Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP)
DKPP bertugas menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh KPU dan PANWASLU. Syaratnya menjadi DKPP adalah harus menjadi bagian dari Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPMAWA) minimal selama 2 tahun.
#PKMRBIOLOGI2016_Cahyo Nugroho_Kelompok 3
http://always5-cahyo.blogspot.co.id/2016/11/resume-2-public-speaking-dan-pemilu-di.html
Totalitaskan diri, tingkatkan prestasi, tuk bersinergi #Totalitas bersinergi

3. Pembentukan Panwaslu UNJ dan Ketua Panwaslu UNJ.
4. Pemilihan Ketua KPU UNJ.
5. Pembentukan Panitia KPU UNJ.
6. Pembekalan untuk penyelenggaraan pemilu UNJ.
7. Pendaftaran peserta Pemilu UNJ.
Tahapan Selanjutnya :
1. Pendaftaran (BEM dan LLM)
2. Pengambilan berkas pendaftaran
3. Penutupan pendaftaran
4. Verifikasi berkas bakal calon
5. Penetapan calon
6. Uji kelayakan
7. Kampanye
8. Dialog calon
9. Kampanye akbar (Kampus D -> Kampus E-> Kampus B-> Kampus A)
10. Masa tenang
11. Pekan pemungutan suara(min.3 hari dan maks. 1 minggu)
12. Perhitungan suara
13. Pengaduan
14. Pengesahan pemenang pemilu
15. Pemberian laporan pertanggungjawaban (LPJ)
Perangkat pemilu :
1. Komisi Pemilihan Umum (KPU), dibagi menjadi
- KPU Universitas
- KPU Fakultas
- KPU Jurusan
KPU Terdiri dari :
a. Ketua : berkoordinasi untuk membuat sistem pemilu yang demokratis
b. Sekretaris : menjadi notula, mengumpulkan database pengurus KPU, membuat LPJ dan SPJ, mengelola surat masuk dan keluar di KPU
c. Bendahara : Mengrurus hal-hal yang berkaitan dengan keuangan
d. Administrator dan Hukum : memeriksa berkas kandidat pemilu, bertanggungjawab terhadap sosialisasi pemilu, menentukan naskah landasan hukum.
e. Acara : menentukan tempat-tempat dilaksanakannya pemilu, bertanggungjawab dalam pelaksanaan acara, menyusun acara
f. Logistik : mengurus hal yang berkaitan dengan surat suara
g. HPD : Menyampaikan informasi terkait pemilu
2. Panitia Pengawas Pemilu (PANWASLU)
Dibentuk MTM bersama LLM. Bertugas untuk mengawasi jalannya pemilu, mengeluarkan booklet dan poster/banner.
3. Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP)
DKPP bertugas menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh KPU dan PANWASLU. Syaratnya menjadi DKPP adalah harus menjadi bagian dari Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPMAWA) minimal selama 2 tahun.
#PKMRBIOLOGI2016_Cahyo Nugroho_Kelompok 3
http://always5-cahyo.blogspot.co.id/2016/11/resume-2-public-speaking-dan-pemilu-di.html
Totalitaskan diri, tingkatkan prestasi, tuk bersinergi #Totalitas bersinergi
Berthold Brecht (1898 –
1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater,
dan marxis, nasehatnya penting kita renungkan; "Buta yang terburuk
adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak
berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya
hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu
dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta
politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya
mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari
kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk
dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan
multinasional yang menguras kekayaan negeri."
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
Berthold Brecht (1898 –
1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater,
dan marxis, nasehatnya penting kita renungkan; "Buta yang terburuk
adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak
berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya
hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu
dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta
politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya
mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari
kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk
dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan
multinasional yang menguras kekayaan negeri."
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b472
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b472
Berthold Brecht (1898 –
1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater,
dan marxis, nasehatnya penting kita renungkan; "Buta yang terburuk
adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak
berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya
hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu
dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta
politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya
mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari
kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk
dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan
multinasional yang menguras kekayaan negeri."
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
Berthold Brecht (1898 –
1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater,
dan marxis, nasehatnya penting kita renungkan; "Buta yang terburuk
adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak
berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya
hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu
dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta
politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya
mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari
kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk
dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan
multinasional yang menguras kekayaan negeri."
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sunardianwirodono/politic-quotes-buta-terburuk-adalah-buta-politik_54f6bd23a33311fb598b4722
Tidak ada komentar:
Posting Komentar